• Copyright © melayupedia.com
    All Right Reserved.
    By : MPC

    Banjir dan Longsor Putus Total Pasokan Cabai dari Sumatera, Harga di Batam Melonjak Tajam

    Ilustrasi

    Batam, Melayupedia – Bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 mulai berdampak serius pada stabilitas pasokan komoditas ke Kota Batam. Salah satu yang paling terdampak adalah pasokan cabai, yang kini terputus total dari daerah penghasil utama seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

    Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Wahyu Daryatin, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun pasokan cabai dari Sumatera yang masuk ke Batam dalam dua hari terakhir.

    "Pasokan dari Pulau Sumatera terputus total mulai kemarin. Selama ini cabai itu kan pedagang ambil dari Medan, Padang, hingga Aceh. Jadi karena bencana banjir dan longsor dipastikan tidak ada pasokan yang masuk ke Batam dari wilayah penghasil tersebut," kata Wahyu saat dihubungi, Jumat (28/11/2025).

    Ia menjelaskan bahwa pedagang tidak memiliki stok cabai dalam jumlah besar karena sifat komoditas tersebut yang cepat rusak dengan masa simpan hanya 3–5 hari. Akibatnya, pedagang selama ini mendatangkan pasokan setiap hari dari sentra produksi di Sumatera.

    Harga Cabai Langsung Meroket

    Pemutusan pasokan membuat harga cabai di Batam mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan hasil survei sementara, Wahyu menyebutkan harga kabinegatf mengalami kenaikan sebagai berikut:

    • Cabai rawit: Rp75.000/kg

    • Cabai besar merah (setan): Rp120.000–150.000/kg

    • Cabai merah keriting: Rp75.000/kg

    • Cabai hijau: Rp45.000/kg

    "Cabai hijau saat ini dijual Rp45 ribu/kg," ujarnya.

    Padahal, sebelum bencana, harga cabai secara nasional berada di kisaran Rp51.650/kg untuk cabai rawit merah, Rp58.050/kg untuk cabai merah besar, dan Rp59.700/kg untuk cabai merah keriting.

    Di daerah terdampak seperti Padang, harga cabai bahkan melonjak ekstrem hingga Rp200.000 per kilogram karena akses jalan ke sentra produksi seperti Agam, Tanah Datar, dan Padang Pariaman rusak parah.

    Mencari Alternatif dari Luar Sumatera

    Untuk memenuhi kebutuhan cabai Batam yang mencapai 15–20 ton per hari, pedagang kini mencari pasokan alternatif dari beberapa daerah lain. Salah satu opsi adalah Mataram, meski volumenya tidak sebesar produksi dari Medan dan Padang.

    Selain itu, pedagang juga mencoba mendatangkan cabai dari Yogyakarta dan Surabaya. Namun biaya distribusi dipastikan lebih mahal karena harus menggunakan pengiriman udara.

    "Jadi bisa dipastikan akan ada kenaikan harga pada komoditi cabai ini," ujar Wahyu.

    Ia berharap pengalihan pasokan dari luar Sumatera dapat setidaknya menjaga keberlanjutan rantai suplai agar harga tidak melonjak lebih drastis.

    "Yang terpenting saat ini adalah rantai pasokan tetap ada dari daerah penghasil lainnya," sebutnya.

    Telur Aman, Komoditas Lain Dipantau Ketat

    Wahyu memastikan bahwa untuk pasokan telur, kondisi masih aman karena komoditas tersebut bisa disimpan lebih lama. Tidak ada lonjakan harga yang signifikan pada telur sejauh ini.

    "Kalau telur bisa distok, sedangkan cabai tidak bisa karena kalau ditahan komoditi tersebut juga rentan dan cepat rusak," jelasnya.

    Ia melanjutkan bahwa hampir semua pasokan dari Pulau Sumatera terputus akibat bencana. Karena itu, pihaknya terus berkomunikasi dengan distributor dan pedagang untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

    Dampak Bencana Sumatera Meluas

    Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mengakibatkan sedikitnya 104 orang meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi, serta kerusakan infrastruktur parah di berbagai daerah. Gubernur Sumatera Utara telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak 27 November hingga 10 Desember 2025.

    "Karena kita bukan daerah penghasil, dan bergantung dari daerah lain. Hal yang terpenting saat ini rantai pasokan tidak boleh putus, dan soal harga kami juga berupaya melakukan pengawasan nantinya. Jangan sampai kenaikan drastis dan membuat pembeli juga cemas," tegas Wahyu.

    Ia meminta distributor dan pedagang melaporkan kondisi pasokan setiap hari agar pemerintah memiliki data akurat untuk mengantisipasi dampak berkepanjangan.

    "Ini akan menjadi data bagi kami, karena kita belum tahu sampai kapan pasokan dari Pulau Sumatera terputus. Tentunya kami terus mencari solusi, salah satunya mendorong masuknya komoditi dari daerah penghasil lainnya," tutupnya.

    Dengan belum pulihnya akses transportasi di Sumatera, Pemko Batam mengimbau warga agar bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan pembelian panik (panic buying). Pemerintah memastikan pengawasan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas penting di Batam.