• Copyright © melayupedia.com
    All Right Reserved.
    By : MPC

    Andalkan Teknologi Elektrolisis, Samator Batam Suplai Hidrogen untuk Industri Elektronik dan Oleokimia

    Tampak sejumlah tabung milik Samator Batam yang mengolah udara menjadi Oksigen, Hidrogen, dan Nitrogen. (Foto: melayupedia)

    Batam, Melayupedia - PT Samator Gas Industri Batam mencatatkan diri sebagai satu-satunya pabrik produksi hidrogen (H2) di wilayah Provinsi Kepri - Sumatera. Fasilitas ini menjadi tulang punggung pasokan gas industri untuk sektor elektronik, manufaktur, galangan kapal, hingga kebutuhan medis di Batam.

    General Manager Teknik Industri Samator, Heri Juansyah, menjelaskan bahwa seluruh produk air gas seperti oksigen, nitrogen, dan argon diolah langsung dari udara atmosfer melalui proses pemisahan yang membutuhkan teknologi tinggi.

    "Memang benar semua berasal dari udara bebas, tetapi proses memisahkan udara menjadi oksigen, nitrogen, dan argon itu membutuhkan kompresor, mesin pendingin, hingga tabung penyimpanan khusus. Selama proses pengolahan itulah biaya terbesar keluar, terutama dari konsumsi listrik," ungkap Heri, Jumat (21/11/2025).

    Samator Batam menjadi cabang unggulan karena memiliki fasilitas produksi hidrogen berbasis electrolysis yang dinilai lebih ramah lingkungan. Kapasitas produksinya mencapai 60 Nm3 per jam, atau sekitar 1.300 Nm3 per hari.

    "Di Batam, kami punya keunggulan produksi hidrogen H2 berbasis elektrolisis. Ini ramah lingkungan dan efisien. Saat ini utilisasinya sekitar 60 persen dari kapasitas, dan masih ada ruang kebutuhan hingga 40 persen untuk tahun-tahun berikutnya," jelas Heri.

    Hidrogen dari Samator saat ini dipasok ke dua industri besar yakni ;

    • PT Infineon Technologies Batam (segmen elektronik) – sekitar 40% dari kapasitas.
    • PT Synergy Oil Nusantara (oleokimia) – sekitar 120% dari kapasitas eksisting.

    Selain itu hidrogen, produk air gas lainnya juga memiliki pasar besar di Batam, yakni ;

    • Oksigen: 90% terserap sektor konstruksi dan galangan kapal, termasuk kebutuhan pengelasan. Sebagian digunakan rumah sakit seperti RS Oki, Awal Bros, dan RS swasta lainnya.
    • Nitrogen: Diserap industri elektronik seperti Infineon, Schneider, dan perusahaan di Muka Kuning.
    • Argon: Digunakan untuk pengelasan di galangan kapal dan pabrik konstruksi.

    "Untuk oksigen, penggunaan terbesar tetap di construction engineering, terutama galangan kapal dan pabrik pengelasan. Nitrogen terserap di sektor elektronik, sedangkan argon untuk pengelasan khusus," kata Heri.

    Di tengah lonjakan kasus COVID-19 tahun 2019–2020 lalu, Samator Batam berperan penting menyuplai oksigen ke Pulau Jawa yang kala itu mengalami krisis pasokan.

    "Saat COVID-19, permintaan naik drastis. Jawa saat itu kekurangan, sementara Batam masih punya kelebihan produk. Jadi kami mengirim hampir 20 isotank ke Jawa," ujar Heri.

    Setiap isotank berkapasitas 19.000 liter, setara 6.300 hingga 7.000 tabung oksigen ukuran standar. Heri menegaskan bahwa salah satu kekuatan utama Samator adalah standar keamanan yang ketat, mulai dari sensor pendeteksi gas hingga penerapan K3.

    "Unit plant kami sudah dilengkapi sensor-sensor deteksi. Semua tenaga kerja yang terlibat sudah dibekali pelatihan K3 dan kompetensi teknis sesuai standar," tegasnya.

    Saat ini, Samator Batam mempekerjakan sekitar 75 tenaga kerja, di mana 45 persen merupakan karyawan lokal. Sebagai produsen hidrogen berbasis elektrolisis, Samator berharap dapat turut berkontribusi pada target transisi energi Indonesia di masa depan.

    "Dengan teknologi elektrolisis ini, kami berharap bisa mendukung transisi energi nasional. Hidrogen adalah energi masa depan yang inovatif dan berkelanjutan," pungkas Heri Juansyah.