• Copyright © melayupedia.com
    All Right Reserved.
    By : MPC

    Amsakar Pilih SWRO untuk Industri, Anggaran Air Bersih Warga Difokuskan ke Revitalisasi Pipa

    Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. (Foto: Asrul/Batamnews)

    Batam, Melayupedia – Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan teknologi penyulingan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) ke depan akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri dan investasi, bukan pelanggan rumah tangga.

    Alasannya, biaya produksi air melalui teknologi SWRO dinilai terlalu tinggi jika dibebankan kepada masyarakat. Karena itu, BP Batam memilih memprioritaskan pembenahan jaringan distribusi dan penyelesaian persoalan pasokan air yang selama ini dikeluhkan warga.

    “Harga SWRO itu dengan harga rata-rata untuk pelanggan masyarakat kita ini nggak masuk. Jadi seandainya kami membangun, itu untuk kepentingan industri atau investasi yang nanti masuk di Batam,” tegas Amsakar.

    Menurutnya, kebutuhan air industri berskala besar tidak bisa disamakan dengan kebutuhan rumah tangga. Sejumlah investor bahkan telah sepakat membangun fasilitas SWRO secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan operasional mereka.

    Amsakar mencontohkan kawasan Dayone yang membutuhkan pasokan air hingga 200 liter per detik (LPS), sedangkan kawasan Equator membutuhkan sekitar 300 LPS.

    Kebutuhan dalam jumlah besar tersebut dinilai sulit dipenuhi hanya dengan mengandalkan pasokan dari waduk. Apalagi, sumber air baku yang tersedia perlu diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

    Dengan skema tersebut, industri besar diharapkan mampu memenuhi kebutuhan airnya sendiri, sementara BP Batam memusatkan perhatian pada persoalan pasokan air bersih bagi warga.

    Pipa Berusia Puluhan Tahun Jadi Prioritas

    Alih-alih membebankan biaya SWRO kepada pelanggan rumah tangga, BP Batam memilih mempercepat peremajaan jaringan pipa distribusi yang telah berusia puluhan tahun.

    Amsakar menyebut sejumlah pipa di Batam sudah berumur lebih dari empat dekade, bahkan ada yang mencapai 56 tahun. Kondisi tersebut dinilai rawan dan membutuhkan revitalisasi agar distribusi air lebih andal.

    “Umurnya sudah ada yang 56 tahun, 46 tahun, itu rawan. Jadi perlu direvitalisasi,” jelasnya.

    Selain peremajaan pipa, BP Batam juga mempercepat penanganan 18 stress area, yakni titik-titik jaringan yang mengalami kendala distribusi air. Program ini masuk dalam langkah percepatan atau quick win untuk memperbaiki layanan kepada masyarakat.

    Dari 18 titik tersebut, delapan diklaim telah berhasil diselesaikan sepanjang tahun ini.

    Pembenahan jaringan dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Sengkuang, Batu Ampar, Muka Kuning, dan Tanjung Uncang. BP Batam juga merespons keluhan warga di Perumahan Sungai Lekop.

    Melalui langkah tersebut, BP Batam berharap persoalan distribusi air bersih yang selama ini dirasakan masyarakat dapat ditangani secara bertahap, sementara kebutuhan air dalam skala besar untuk industri dipenuhi melalui solusi tersendiri.